Pernahkah kita begitu mudah memaafkan kesalahan orang lain, tetapi begitu sulit memaafkan kesalahan diri sendiri?
Kita bisa menghibur orang yang sedang bersedih, tetapi ketika diri sendiri gagal, kita justru sibuk menyalahkan diri. Kita bisa mengingatkan orang lain agar tidak berputus asa, tetapi ketika menghadapi ujian, kita lupa bahwa diri kita pun membutuhkan kasih sayang dan penguatan.
Mungkin, kita juga perlu belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih baik.
Belakangan ini, kita mengenal istilah self-love, yaitu mencintai diri sendiri. Namun, dalam Islam, mencintai diri bukan sekadar memanjakan perasaan atau memenuhi keinginan. Ada makna yang lebih dalam: menyadari bahwa diri kita adalah ciptaan Allah yang harus dijaga, dihargai, dan dituntun menuju kebaikan.
Allah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya."
(QS. At-Tin [95]: 4)
Ayat ini mengajak kita merenungkan betapa berharganya manusia dalam penciptaan Allah. Nilai diri kita tidak semata-mata ditentukan oleh prestasi, jabatan, harta, penilaian orang lain, atau seberapa sering kita berhasil memenuhi harapan mereka.
Kita adalah makhluk Allah yang diberi kehormatan sekaligus amanah kehidupan.
Lalu, bagaimana seharusnya kita mencintai diri sendiri?
Pertama, belajarlah menerima diri tanpa berhenti memperbaiki diri.
Kita memiliki masa lalu, kekurangan, dan kesalahan. Tidak semua keputusan kita benar. Tidak semua ikhtiar berakhir sesuai harapan. Namun, kesalahan bukan alasan untuk membenci diri sendiri. Akuilah, perbaikilah, dan belajarlah darinya.
Allah berfirman:
لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
"Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah."
(QS. Az-Zumar [39]: 53)
Jika Allah membuka pintu taubat dan rahmat-Nya, mengapa kita begitu mudah menutup pintu harapan bagi diri sendiri?
Kedua, rawatlah diri karena kehidupan ini adalah amanah.
Tubuh, waktu, pikiran, hati, dan kesempatan hidup bukan sesuatu yang boleh kita abaikan. Beristirahat ketika lelah, menjaga kesehatan, menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, serta memelihara ketenangan hati adalah bagian dari ikhtiar menjalani amanah dengan baik.
Mencintai diri juga berarti tidak membiarkan diri terus-menerus dikuasai iri, dengki, amarah, atau keinginan untuk selalu mendapat pengakuan manusia.
Ketiga, jangan mencintai diri dengan cara membenarkan semua keinginan.
Ada kalanya kita perlu menegur diri sendiri. Ada kalanya kita harus menahan amarah, mengalahkan kemalasan, meminta maaf, atau meninggalkan sesuatu yang menyenangkan tetapi tidak diridai Allah.
Cinta yang sejati tidak selalu memberikan apa yang diinginkan. Terkadang, cinta justru mengarahkan kita kepada apa yang kita butuhkan.
Maka, mencintai diri dalam Islam bukan menjadikan diri sebagai pusat kehidupan, melainkan merawat diri agar semakin dekat kepada Allah dan semakin bermanfaat bagi sesama.
Sebuah renungan untuk diri sendiri
Barangkali, selama ini kita terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain hingga lupa mendengarkan kebutuhan diri sendiri. Atau sebaliknya, kita terlalu sibuk mengejar kenyamanan hingga lupa bahwa jiwa kita membutuhkan makanan berupa iman, zikir, ilmu, dan amal saleh.
Mari belajar menyeimbangkannya.
Menerima diri tanpa menjadi sombong. Mengoreksi diri tanpa membenci diri. Memaafkan diri tanpa meremehkan kesalahan. Menyayangi diri tanpa menjadi egois.
Dan ketika merasa belum menjadi pribadi yang kita harapkan, ingatlah bahwa selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, pintu untuk bertobat, belajar, dan memperbaiki diri tetap terbuka.
Ya Allah, ajarkan kami untuk memandang diri kami dengan jujur, memperlakukan diri kami dengan penuh tanggung jawab, dan membimbing diri kami dengan kasih sayang. Jangan biarkan kami terjebak dalam kesombongan karena kelebihan, ataupun berputus asa karena kekurangan. Jadikanlah kecintaan kami kepada diri sendiri sebagai jalan untuk semakin mengenal, menaati, dan mendekat kepada-Mu.
آمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
